DAWET AYU MASIHKAH AYU, SEJARAH EKSISTENSI MINUMAN KHAS BANJARNEGARA SEJAK TAHUN 1980

Nama: Agung Fitri Adinata
Universitas Negeri Semarang
1. JUDUL
DAWET AYU MASIHKAH AYU, SEJARAH EKSISTENSI MINUMAN KHAS BANJARNEGARA SEJAK TAHUN 1980
2. LATAR BELAKANG
Sekitar tahun lima puluhan kota Banjarnegara terkenal sebagai kota buntil. Lebih-lebih
setelah Presiden Soekarno (Alm) berkunjung ke kota ini yang pada waktu itu suguhan utamanya: buntil dan dawet dari Desa Rejasa, kedua jenis makanan khas itu namanya melejit. Di samping kedua makanan khas itu, kota Banjarnegara juga terkenal karena salak dan kerajinan keramiknya (dari Kecamatan Kelampok).
Bagi sebagian besar masyarakat, terutama para pecinta kuliner, minuman Dawet Ayu
tentu tidaklah asing lagi di telinga. Bahkan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif barubaru ini menetapkan Dawet Ayu sebagai salah satu dari 30 ikon kuliner tradisional Indonesia.
Namun, jarang yang tahu sejarahnya. Dawet Ayu, sebagaiman dikisahkan si empunya yang mempopulerkan Dawet Ayu sejak tahun 1980, Munarjo, warga Rejasa Banjarnegara, tadinya tidak ada istilah Dawet Ayu. “Senien nggih wontene dawet” ujar Munarjo. Kisah bermula ketika kelompok lawak Peang Penjol Banyumas manggung di
Banjarnegara, mereka mendapati dagangan Dawet Ayu tidak ditunggui oleh pedagang pria, sebagaimana lazimnya. Ya, pada awalnya, dawet memang hanya dijajakan dengan cara dipikul.
Munarjo sendiri awalnya tidak tahu kalau nama Dawet Ayu dipopulerkan. “Kulo malah nembengertos mbarang mireng teng kaset, wonten lagu Dawet Ayu” kata Munarjo.
Kini Munarjo sudah kepala tujuh. Tentunya jauh dari kata ayu lagi. Namun karyanya
berupa Dawet Ayu, telah mempercantik namanya hingga dikenal dimana-mana. Sayangnya kini hampir semua penjual dawet mengklaim bahwa mereka menjajakan Dawet Ayu asli Banjarnegara. Padahal, Munarjo merasa tidak pernah memberikan lisensi mengenai Dawet Ayunya, dan tentu saja tak pernah pula mendapatkan royalti dari kekayaan intelektualnya. Ia dan keluarga hanya berharap para pedagang mampu menjaga kualitas rasa dari Dawet Ayu, agar rasanya tetap ayu. Mengenai sejarah Semar Gareng dalam gerobak Dawet Ayu, dapat disingkat kata belekang Semar, yaitu Mar, dan Gareng yaitu Reng. Sehingga jika digabungkan akan menjadi Mareng.
Dari Adhimas S. Bono (Majalah Krida th.1991 No.184, hal.14), penulis mendapat
keterangan bahawa „Dawet Ayu‟ sebenarnya adalah naman judul lagu pop Jawa (gending jawa) hasil ciptaanya. Barangkali lagu ciptaannya itu diilhami oleh salah seorang bakul dawet Banjarnegara yang menggunakan merek „Dawet Ayu‟ itulah mengapa seluruh bakul dawet Banjarnegara menggunakan merek „Dawet Ayu‟. Karena yang sedang terkenal adalah dawet produksi Bu Munarjo, maka banyak penjual dawet yang lain numoang alias ndompleng ketearan dawet Bu Munarjo. Di kota-kota lain seperti Semarang, Yogyakarta, Purwokerto, Pemalang, bahkan sampai Lampung kita dapat menjumpai Dawet Ayu Banjarnegara. Para penjualnya mengaku keponakan, saudara sepupu atau famili dekat Pak/Bu Munarjo.

3. PERMASALAHAN
a. Bagaimana sejarah Dawet Ayu kuliner khas Kabupaten Banjarnegara?
b. Seperti apa makna di balik keberadaan tokoh pewayangan semar dan gareng di gerobak Dawet Ayu?
c. Bagaimana eksistensi Dawet Ayu sebagai ikon Kabupaten Banjarnegara?

4. RUANG LINGKUP MASALAH
Sejarah Dawet Ayu sebagai salah satu kuliner khas Kabupaten Banjarnegara. Makna di balik adanya tokoh pewayangan semar dan gareng. Eksistensi Dawet Ayu sebagai maskot Kabupaten Banjarnegara.
5. TUJUAN PENELITIAN
Banjarnegara kaya akan sejarah wisata sejarah, seni budaya atau kuliner. Sehingga bisa
menjadi daya tarik sendiri bagi para penggiat sejarah untuk melakukan ekspedisi (penelusuran). Dalam hal ini lebih difokuskan untuk sejarah Dawet Ayu sebagai kuliner khas Kabupaten Banjarnegara. Yang sampai saat ini masih dapat ditemui di wilayah Banjarnegara. Untuk itu, tujuan dari penelitian ini antara lain:
a. Mengulas sejarah Dawet Ayu Kabupaten Banjarnegara mulai tahun 1980.
b. Mengetahui sejarah di balik adanya tokoh pewayangan semar dan gareng di gerobak Dawet Ayu.
c. Mengetahui eksistensi Dawet Ayu sebagai ikonm (maskot) Kabupaten Banjarnegara.

6. MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan untuk memerkaya Historiografi Indonesia tentang sejarah
Banjarnegara mengenai “Sejarah Dawet Ayu Banjarnegara, Berawal dari tahun 1980”. Di sisi lain, juga bisa dijadikan sebagai rujukan untuk penelitian selanjutnya mengenai sejarah Kabupaten Banjarnegara.

7. METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang kami gunakan untuk melakukan penelitian ini adalah metode sejarah. Yang terdiri dari atas empat tahapan, ada heuristic, kritik, interpretasi dan historiografi.
Heuristik
Pada tahapan ini dilakukan pengumpulan sumber dari berbagai tempat seperti Arsip Nasional Republik Indonesia. Arsip Daerah Jawa Tengah. Sumber yang kami temukan diantarnya Buku „Banjarnegara, Sejarah dan Babadnya, Obyek Wisata dan Seni Budayanya‟.
Kritik
Kritik digunakan untuk menguji valid atau tidaknya suatu sumber sajarah. Dalam tahap ini kami melakukan kritik sumber dengan membandingkan sumber yang satu dengan yang lain untuk membuktikan kevalidannya.
Interpretasi
Dalam hal ini kami memberikan makna terhadap fakta-fakta sejarah yang dihasilkan melalui hasil verifikasi serta menghubungkan fakta yang satu dengan yang lainnya. Hasil produk
tulisnnya dalam produk ini adalah “Dawet Ayu Masihkah Ayu, Sejarah Eksistensi Minuman Khas Banjarnegara Sejak Tahun 1980”.
Historiografi
Tahap ini merupakan tahap terakhir dalam kegiatan penelitian sejarah. Dalam tahap ini kami menghasilkan sebuah tulisan yang berjudul “Dawet Ayu Masihkah Ayu, Sejarah Eksistensi Minuman Khas Banjarnegara Sejak Tahun 1980”

8. KAJIAN PUSTAKA
Buku yag ditulis oleh Adisarwono, Banjarnegara, Sejarah dan Babadnya, Obyek Wisata
dan Seni Budayanya: Buku ini memaparkan tentang sejarah Kabupaten Banjarnegara. Dari berdirinya Kabupaten Banjarnegara, Kademangan Gumelem, Seni Tradisional, Obyek Wisata dan lain-lain. Persamaan isi buku tersebut dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis ada pada bagian obyek wisata kuliner yang dimuat dalam buku tersebut.
Penelitian yang kami kaji memiliki perbedaan dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh penulis lainnya. Dalam penelitian ini kami akan menjelaskan eksistensi Dawet Ayu, makna semar dan gareng di gerobak dawet ayu.

9. SISTEMATIKA PENULISAN
BAB I: PENDAHULUAN, Dalam bab ini akan diuraikan latar belakang, rumusan masalah
beserta pertanyaan penelitian, ruang lingkup masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kajian pustaka, dan sistematika penulisan.
BAB II: SEJARAH DAWET AYU KULINER KHAS KABUPATEN BANJARNEGARA,
kami akan membahas sejarah Dawet Ayu. Kisah bermula ketika kelompok lawak Peang Penjol Banyumas manggung di Banjarnegara, mereka mendapati dagangan Dawet Ayu tidak ditunggui oleh pedagang pria, sebagaimana lazimnya. Ya, pada awalnya, dawet memang hanya dijajakan dengan cara dipikul. Wajar jika hanya kaum Adam yang mampu melakoni pekerjaan ini. Munardjo mendobrak kebiasaan berjualan dawet dengan cara dipikul, namun ditunggui (mangkal). Dan karena yang menunggui perempuan, maka kelompok lawak Peyang Penjol berujar “Panetes, wong sing dodol
ayu, ya dejenengi bae Dawet Ayu”.
Tentang munculnya nama „dawet ayu‟ pada tahun 1980-an ada yang berpendapat karena si bakul dawetnya ayu (cantik). Salah seorang bakul dawet yang cukup dikenal masyarakat Banjarnegara ialah Bu Munarjo yang sudah berusia kepala tujuh. Tentunya jauh dari kata ayu lagi. Namun sisa-sisa kecantikannya masih Nampak jelas. Ia berasal dari Desa Rejasa, tempat kelahiran Pak Dullah bakul dawet yang cukup terkenal pada tahun-tahun lima pulihan.
(Adisarwono, 2013:403)
Dengan karyanya berupa Dawet Ayu, telah mempercantik namanya hingga dikenal
dimana-mana. Sayangnya kini hampir semua penjual dawet mengklaim bahwa mereka
menjajakan Dawet Ayu asli Banjarnegara. Padahal, Munarjo merasa tidak pernah memberikan lisensi mengenai Dawet Ayunya, dan tentu saja tak pernah pula mendapatkan royalti dari kekayaan intelektualnya.
BAB III: MAKNA ADANYA TOKOH PEWAYANGAN SEMAR DAN GARENG, dalam
bab ini akan dibahas tentang makna simbolis yang ada pada sosok pewayangan semar dan gareng. Dan seperti apa kaitannya dengan minuman Dawet Ayu khas Banjarnegara.
Mengenai sejarah Semar Gareng dalam gerobak Dawet Ayu, dapat disingkat kata
belekang Semar, yaitu Mar, dan Gareng yaitu Reng. Sehingga jika digabungkan akan menjadi Mareng. Maka tak boleh keliru tempat memasangnya. Mareng disatu sisi merupakan situasi kemarau, yang secara otomatis membuat orang akan memburu Dawet Ayu sebagai pelepas dahaga. Dan mareng di sisi yang lain diarikan datang, atau berbondong-bondong mendatang penjual Dawet Ayu. Ada pula makna lain, yaitu mengambil kata depan dua tokoh punakawan tadi, yaitu Se, dan Gar. Yang jika digabungkan, maka menjadi kata Segar. Ya, dawet ayu Banjarnegara tak hanya Ayu dari segi rasa, namun juga segar.
BAB IV: EKSISTENSI DAWET AYU SEBAGAI IKON KABUPATEN
BANJARNEGARA, seperti apa eksistensi minuman khas ini dari zaman ke zaman akan dibahas dalam bab ini.
Dawet ayu adalah minuman khas dari Banjarnegara. Minuman ini mudah ditemukan di
pasar-pasar tradisiona. Es Dawet Ayu asli Banjarnegara rasanya lezat dan segar, sehingga sangat cocok diminum ketika cuaca panas. Dawet Ayu dapat diminum dalam keadaan biasa atau dingin
dengan menmabahkan es batu. Rasa yang segar dan nikmat merupakan keistimewaan dan keunikan tersendiri sebagai minuman tradisional khas Banjarnegara. Seiring dengan perkembangan jaman, kini es dawet ayu tidak hanya dapat dijumpai di Banjarnegara saja, tetepi dapat dijumpai ditengah-tengah kota cuaca panas tropis seperti Semarang, Jakarta, Surabaya dan masih banyak lagi kota-kota lain.
Dawet Ayu sendiri merupakan salah satu maskot Kota Banjarnegara, buktinya ada di
alun-alun kota, karena di sana terdapat Monumen Dawet Ayu yang berupa gerobak dan dua orang penjualnya. Es dawet cah Mbanjar (Dawet Ayu) produksinya telah merambah pasar Singapura. Di Indonesia, Dawet Ayu sudah diproduksi mulai dari wilayah Barat, Tengah hingga Timur. Minuman khas Banjarnegara kini sudah bisa dirasakan seluruh masyarakat negeri ini. Di Singapura, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) juga memesan Dawet Ayu. Dan minuman ini pun sudah dipromosikan di Thailand akhir-akhir ini.
BAB V: SIMPULAN, dalam bab ini berisi simpulan yang ditarik dari pembahasan pada bab sebelumnya Tentang munculnya nama „dawet ayu‟ pada tahun 1980-an ada yang berpendapat karena si bakul dawetnya ayu (cantik). Salah seorang bakul dawet yang cukup dikenal masyarakat Banjarnegara ialah Bu Munarjo yang sudah berusia kepala tujuh. Tentunya jauh dari kata ayu lagi. Dengan karyanya berupa Dawet Ayu, telah mempercantik namanya hingga dikenal dimanamana.
Sayangnya kini hampir semua penjual dawet mengklaim bahwa mereka menjajakan
Dawet Ayu asli Banjarnegara. Mengenai sejarah Semar Gareng dalam gerobak Dawet Ayu, dapat disingkat kata belekang Semar, yaitu Mar, dan Gareng yaitu Reng. Sehingga jika digabungkan akan menjadi Mareng. Mareng disatu sisi merupakan situasi kemarau, yang secara otomatis membuat orang akan memburu Dawet Ayu sebagai pelepas dahaga. Dan mareng di sisi yang lain diarikan datang, atau berbondong-bondong mendatang penjual Dawet Ayu.
Dawet Ayu dapat diminum dalam keadaan biasa atau dingin dengan menmabahkan es
batu. Rasa yang segar dan nikmat merupakan keistimewaan dan keunikan tersendiri sebagai minuman tradisional khas Banjarnegara. Seiring dengan perkembangan jaman, kini es dawet ayu tidak hanya dapat dijumpai di Banjarnegara saja, tetepi dapat dijumpai ditengah-tengah kota cuaca panas tropis seperti Semarang, Jakarta, Surabaya dan masih banyak lagi kota-kota lain. Di Indonesia, Dawet Ayu sudah diproduksi mulai dari wilayah Barat, Tengah hingga Timur. Minuman khas Banjarnegara kini sudah bisa dirasakan seluruh masyarakat negeri ini.
10. BIBLIOGRAFI
Mertadiwangsa, Adisarwono. 2013. Banjarnegara, Sejarah dan Babadnya, Obyek Wisata dan Seni Budayanya. Banjarnegara: Duta Publishing Indonesia.
Majalah „Krida‟ tahun 1991 Nomor 184, hal.14: Perang Antar Dawet Ayu.
Film Dokumenter berjudul “Lestari Dawet Ayuku” karya siswa SMA Negeri 1 Sigaluh,
Ekstrakurikuler Jurnalistik, Film, dan Fotografer tahun 2010.
Dawetayubanjarnegaraibueti.blogspot.co.id/2011/07/sejarah-dawet-ayu-aslibanjarnegara.
html?m=1 (diakses Senin 5 Maret 2018)
11. LAMPIRAN
Dalam lampiran akan ditambilkan sumber-sumber sejarah khususnya tentang “Dawet Ayu”